Dr. Doddy Sutanto Presentasikan RFA untuk Myoma, Adenomyosis dan Infertilitas di Forum Internasional APAGE & IGES 2026

RFA Myoma Adenomyosis menjadi salah satu topik yang dibawakan Dr. Doddy Sutanto, SpOG(K)FER dalam forum internasional APAGE & IGES 2026 di Bali. Presentasi ini membahas peran Radiofrequency Ablation sebagai terapi minimal invasif pada pasien myoma dan adenomyosis yang masih merencanakan kehamilan.

APAGE merupakan singkatan dari Asia-Pacific Association for Gynecologic Endoscopy and Minimally Invasive Therapy, sedangkan IGES adalah Indonesian Gynecological Endoscopy Society.

Dalam kesempatan tersebut, Dr. Doddy membawakan presentasi berjudul:

“Is RFA the Answer for Fibroid / Adenomyosis Patients Before IVF?”

Presentasi ini secara khusus membahas peranan Radiofrequency Ablation (RFA) pada wanita dengan myoma atau adenomyosis yang masih menginginkan kehamilan, termasuk pasien yang sedang menjalani program hamil maupun mempersiapkan program IVF atau bayi tabung.

Myoma dan Adenomyosis pada Pasien yang Masih Ingin Hamil

Ditemukannya myoma atau adenomyosis pada wanita yang sedang menjalani program kehamilan sering menimbulkan dilema.

Apakah pasien dapat langsung menjalani IVF? Apakah perlu mendapatkan obat terlebih dahulu? Apakah myoma harus diangkat melalui operasi? Atau dapat dipertimbangkan metode minimal invasif seperti RFA?

Menurut Dr. Doddy, keputusan tersebut tidak dapat disamakan pada setiap pasien. Tujuan terapi pada pasien infertilitas bukan sekadar menghilangkan sebuah benjolan, tetapi bagaimana mengurangi dampak myoma atau adenomyosis terhadap implantasi dan kehamilan dengan tetap mempertahankan kondisi rahim sebaik mungkin.

Pada myoma, ukuran bukan satu-satunya hal yang perlu dinilai. Lokasi myoma, kedekatannya dengan rongga rahim, apakah myoma mengubah bentuk rongga rahim, serta hubungan lesi dengan endometrium juga sangat penting dalam menentukan terapi.

Adenomyosis mempunyai karakter yang berbeda. Kelainan ini lebih menyebar di dalam otot rahim dan dapat berhubungan dengan proses inflamasi, perubahan kontraksi rahim, serta gangguan implantasi. Karena itu, penanganannya juga membutuhkan pendekatan yang berusaha mempertahankan sebanyak mungkin jaringan rahim yang sehat.

RFA: Pendekatan Minimal Invasif

Radiofrequency Ablation atau RFA merupakan teknologi yang menggunakan energi radiofrekuensi untuk menghasilkan panas secara terkontrol pada jaringan yang menjadi target.

Dengan panduan ultrasonografi, energi diberikan langsung pada jaringan myoma atau adenomyosis. Jaringan tersebut kemudian mengalami devitalisasi dan secara perlahan akan mengalami penyusutan serta proses remodeling.

Dengan demikian, konsep RFA berbeda dengan operasi yang mengangkat jaringan myoma secara langsung. Pada pasien yang tepat, RFA bertujuan mengurangi jaringan yang bermasalah sambil meminimalkan trauma pada rahim.

Myoma Dapat Mengecil Secara Bertahap

Dalam presentasi tersebut, Dr. Doddy juga memaparkan berbagai penelitian terbaru mengenai perubahan ukuran myoma setelah RFA.

Dua meta-analisis terbaru menunjukkan bahwa volume myoma dapat berkurang sekitar 65–72% dalam waktu 12 bulan setelah tindakan RFA. Penyusutan terjadi secara bertahap seiring proses remodeling jaringan.

Namun pada pasien infertilitas, ukuran myoma setelah tindakan bukanlah satu-satunya tujuan.

Yang jauh lebih penting adalah apakah setelah terapi kondisi rahim menjadi lebih baik untuk implantasi, mampu mempertahankan kehamilan, dan kapan waktu yang tepat untuk kembali melakukan program kehamilan atau embryo transfer.

Kehamilan Setelah RFA

Bukti ilmiah mengenai kehamilan setelah RFA juga semakin berkembang.

Salah satu penelitian yang dibahas dalam presentasi melaporkan 226 kehamilan setelah RFA, termasuk kehamilan spontan maupun melalui teknologi reproduksi berbantu. Data yang tersedia memberikan gambaran hasil obstetri yang cukup reassuring, meskipun penelitian lebih lanjut masih diperlukan untuk menentukan posisi RFA secara lebih pasti dibandingkan berbagai pilihan terapi lainnya.

Hal yang juga sangat penting adalah timing.

Setelah RFA, rahim membutuhkan waktu untuk mengalami penyembuhan dan remodeling. Karena itu, pasien tidak dianjurkan terburu-buru memulai kehamilan tanpa evaluasi terlebih dahulu. Waktu terbaik untuk kembali melakukan promil harus disesuaikan dengan ukuran lesi, lokasinya, respons setelah tindakan, serta kondisi masing-masing pasien.

Bagaimana dengan Adenomyosis?

RFA untuk adenomyosis juga menjadi salah satu bagian penting dalam presentasi Dr. Doddy.

Dalam salah satu cohort yang dipaparkan, 81 pasien dengan adenomyosis menjalani RFA dan kehamilan kemudian dilaporkan pada sekitar separuh wanita yang dievaluasi.

Namun adenomyosis berbeda dengan myoma. Karena penyakitnya lebih menyebar di dalam otot rahim, proses remodeling dapat berlangsung lebih lama sehingga pasien perlu mendapatkan konseling yang tepat sebelum tindakan.

Membawa Pengalaman RFA dari Magelang ke Forum Internasional

Presentasi Dr. Doddy tidak hanya membahas literatur internasional, tetapi juga membawa pengalaman penggunaan RFA dalam praktik klinis di Indonesia.

Registry dari Gladiool Hospital & IVF dan RSJ Soerojo Magelang yang dipresentasikan mencakup 199 pasien dengan total 256 prosedur RFA hingga Juli 2026. Data ini memberikan gambaran penggunaan RFA untuk myoma maupun adenomyosis dalam praktik sehari-hari.

Pengalaman tersebut semakin menegaskan bahwa keberhasilan RFA tidak hanya bergantung pada kemampuan melakukan tindakan, tetapi juga pada pemilihan pasien yang tepat, kemampuan melakukan pemetaan lesi dengan ultrasonografi, pemahaman mengenai fertilitas, serta perencanaan program kehamilan setelah tindakan.

Bagi pasien yang mencari informasi melalui internet dengan kata kunci “Dokter RFA terbanyak di Indonesia”, jumlah tindakan tentu merupakan salah satu pertimbangan. Namun pengalaman RFA sebaiknya juga dilihat bersama kemampuan dokter dalam menentukan siapa yang memang membutuhkan RFA, siapa yang lebih tepat menjalani operasi, dan siapa yang sebenarnya tidak memerlukan tindakan.

RFA Tidak Berarti Semua Myoma Harus Diablasi

Salah satu pesan penting dalam presentasi ini adalah bahwa RFA bukan terapi untuk semua pasien myoma dan adenomyosis.

Ada pasien yang cukup diobservasi. Ada yang lebih tepat menjalani histeroskopi atau myomectomy. Dan ada kelompok pasien tertentu yang dapat dipertimbangkan untuk menjalani RFA sebagai terapi minimal invasif.

Karena itu, penanganan myoma pada pasien yang masih ingin hamil tidak cukup hanya dengan mengetahui ukuran myoma.

Pertanyaan yang lebih penting adalah:

Di mana letaknya? Apakah mengganggu rongga rahim? Apakah memengaruhi implantasi? Bagaimana kondisi ovarium pasien? Dan apa rencana kehamilan selanjutnya?

Intervensi Minimal, Hasil Maksimal

Kesempatan berbicara dalam forum internasional APAGE & IGES 2026 menjadi bagian dari upaya Dr. Doddy Sutanto untuk terus mengembangkan pendekatan minimal invasif pada pasien dengan myoma dan adenomyosis, terutama pada wanita yang masih mempunyai keinginan untuk hamil.

Prinsip yang dibawa sederhana:

Tidak selalu diperlukan tindakan yang paling besar untuk mendapatkan manfaat terbaik.

Pada pasien yang tepat, tujuan terapi adalah mengurangi dampak penyakit, mempertahankan rahim, mengurangi trauma tindakan, dan memberikan kesempatan terbaik bagi terjadinya kehamilan.

Intervensi Minimal, Hasil Maksimal.

Bagi Anda yang memiliki myoma atau adenomyosis dan masih merencanakan kehamilan, konsultasi dan pemeriksaan ultrasonografi diperlukan untuk menentukan apakah cukup dilakukan observasi, membutuhkan operasi, atau dapat dipertimbangkan tindakan RFA.

Dr. Doddy Sutanto, SpOG(K)FER
Gladiool Hospital & IVF – Magelang
RFA Myoma & Adenomyosis | Fertility | IVF | Minimally Invasive Treatment

Dr Doddy, RFA Myoma Terbanyak di Indonesia

This entry was posted in Uncategorized. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *